BKSDA Bengkulu Buka Suara Tentang ‘Bajul’ di Aliran Sungai Selagan

Said Jauhari – Kepala Seksi (Kasi) Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu

HARIAN SEMARAK, MUKOMUKO – Balai Konservasi Sumber Daya (BKSDA) Provinsi Bengkulu buka suara tentang keberadaan buaya di aliran sungai Selagan Kabupaten Mukomuko, Selasa (16/04/2024).

banner 970x250

Kepala Seksi (Kasi) Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu, Said Jauhari, mengatakan, sungai Selagan merupakan salah satu habitat buaya di wilayah Kabupaten Mukomuko. Kata dia, di wilayah Provinsi Bengkulu di setiap muara merupakan habitat buaya.

“Dari perbatasan Bengkulu – Sumatera Barat sampai ke Kabupaten Kaur bagian Selatan (Bintuhan) pada umumnya merupakan habitat buaya,” kata Kasi Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu.

Di Provinsi Bengkulu, terang Kasi Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu, hanya ada satu jenis buaya yaitu buaya muara (Crocodylus porosu). Jenis ini, merupakan salah jenis buaya terbesar di dunia yang masuk dalam kategori keluarga satwa yang dilindungi.

“Di Kabupaten Mukomuko, hanya ada satu jenis buaya (Crocodylus porosu). Ada juga buaya rawa, ciri fisiknya moncongnya (mulut) lebih panjang (lancip). Salah satu habitatnya ada di Riau,” terang Kasi Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu.

Ia mengungkapkan, aliran sungai Selagan merupakan habitat buaya yang juga dikenal sebagai nama buaya bekatak.

“Kalau disebut populasi buaya di aliran sungai Selagan banyak, saya rasa nggak lah, tapi setiap muara sekitar satu atau dua ekor pasti ada (buaya). Kalau di Mukomuko, yang sering muncul itu di aliran sungai Air Rami. Nggak, ini bukan konflik antara manusia dengan buaya, tapi itu (sungai Selagan) memang habitatnya. Jadi kalau dikatakan konflik, jika binatang pemangsa berulah diluar habitatnya, “ungkap Kasi Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu.

Dalam kasus di sungai Selagan, sambung Kasi Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu, korban hanya digigit sedangkan jika posisi lapar buaya akan memakan mangsanya.

Kasi Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu minta masyarakat terutama warga lokal biasanya lebih arif dan mengetahui habitat satwa yang juga dikenal dengan sebutan Man-eater (pemakan manusia) ini.

“Jadi sangat tidak mungkin buaya ini dievakuasi dari habitatnya,” jelasnya.

Kasi Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu menghimbau kepada masyarakat agar beraktivitas di aliran sungai muara untuk lebih berhati-hati terlebih di wilayah kekuasaan buaya.

“Buaya bisa menguasai wilayah atau wilayah jelajah hingga 20 kilometer dari muara.” pungkasnya.

Diketahui, tahun 2022 yang lalu, seorang pria bernama Sabri (68) diterkam buaya saat membersihkan kaca mata selam di pinggir sungai Selagan (Lubuk Nago), Senin (21/02 /2022).

Korban yang juga merupakan pencari lokan ini, sekitar pukul 13:00 wib dl sedang membersihkan kaca mata selam yang akan digunakan untuk menyelam.

Naas, diperkirakan, saat itulah korban terekam buaya hingga diketemukan sekitar pukul 17:10 wib sekitar 1 kilometer dari tempat kejadian perkara (TKP).

Di lain waktu, warga Desa Tanah Rekah Kecamatan Kota Mukomuko Kabupaten Mukomuko berhasil menangkap sekor buaya muara dengan menggunakan jerat tali tambang di sungai Selagan. (**).

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *